penulis
Pojok Menulis

Rahasia Tersembunyi di Balik Kesuksesan Para Penulis

Rahasia Tersembunyi di Balik Kesuksesan Para Penulis. Hei kalian, makasih ya udah datang lagi ngunjungi blog yang masih minim tulisan ini, untuk ngebaca judul di atas. Saya rasa sebagian pembaca artikel ini juga orang yang suka nulis. Hmmm itu karena kemungkinan besar kalian nyampe di artikel ini hasil dari nge-klik link yang paling-paling saya bagikan di komunitas bloger atau di story sosial media yang notabenya sebagian besar pengikut sosmed saya juga para penulis. Ya kalo enggak penulis juga minimal kalian suka membaca, karena hanya pecinta baca yang bakal mampir untuk membaca hihi. Dari judul yang saya sematkan di atas, sepertinya kalian emang suka nulis deh, kan emang tulisan berjudul begini penikmatnya ya juga emang yang butuh sih.

Pasti kalian mau cepat-cepat tau kan ya apa sih rahasia tersembunyi di balik kesuksesan para penulis? hayo, sama sih, saya waktu baca artikel di dunia maya juga begitu, paling langsung scrol untuk dapatin intinya. Apalagi kalo pas ketemu ada sub-sub judul atau heading yang ngasi poin-poin langsung, pasti deh isinya gak dibaca, baca aja langsung poin-poinnya. Ya gak sih? wkwk

Tapi kayaknya kalian harus sabar deh di sini. Baca pelan-pelan aja ya, saya jamin deh kalian gak bakalan ngabisin waktu berharga, karena yang kalian baca di sini juga berharga banget untuk bekal nulis saat terkadang rasa malas mulai hampir menguasai diri. Lumrah kan ya kita para penulis ini terkadang dihantui rasa malas yang akhirnya berkuasa menjadi penghuni tetap di otak hingga tangan tak sanggup menulis. Nah, mengusir si hantu malas ini bisa juga dilakukan dengan membaca tulisan-tulisan motivasi atau sejenis kiat-kiat yang ngingetin akan kesuksesan. Semoga aja tulisan yang ini tuh bisa menjadi motivasi, kiat agar kita bisa sukses sebagai penulis.

Konsisten itu berat banget loh.

Di akhir tahun 2021, saya diajak temen untuk ikutan menulis buku antalogi. Kalian tau kan buku antaogi? iya, buku yang ditulis bareng-bareng oleh beberapa orang penulis. Judul besar buku tersebut “Perempuan Melukis aksara”. Karena semua penulisnya perempuan dan tema besarnya tentang menulis, jadi dibuatlah judul tersebut. Karena temaya tentang menulis, rata-rata tulisan di buku antalogi tersebut berisi sajian pengalaman para penulisnya tentang bagaimana mereka bisa termotivasi untuk menulis. Meskipun ada juga sih yang berisi tentang pengalaman menjadi penulis, pengalaman dapat bertemu dengan tokoh penulis, dan banyak lagi cerita tentang menulis. Kesimpulan yang saya bisa ambil dari buku antalogi ini adalah untuk bisa menjadi penulis yang hebat, diperlukan konsistensi dalam menulis, tapi masalahnya adalah berat banget loh untuk konsisten. Jadi solusinya agar bisa konsisten adalah menulislah karena alasan ingin menuangkan banyak hal yang bisa jadi manfaat bagi orang lain, bukan menulis untuk mendapatkan royalti, ketenaran, dan lain-lain berupa materi yang gak membawa kepuasan, karena kepuasan membagi manfaat akan menumbuhkan motivasi berkarya berikutnya.

Ada salah satu tulisan di buku antalogi tersebut yang mengisahkan perjalanan seorang dokter yang sepanjang hidupnya hanya memiliki dua orang pasien saja yaitu suami dan ibunya. Awalnya sang dokter cantik ini memiliki dua orang sahabat, ketika mereka sudah sah menjadi dokter, mereka berjanji akan bertemu sepuluh tahun kemudian untuk menceritakan pengalaman menjadi dokter dan sebanyak apa pasien yang mereka rawat. Salah satu dokter cantik ini nasibnya kurang beruntung dibanding kedua temannya karena suami dan ibunya sakit parah hingga dia tak bisa berkarir di dunia kedokteran. Sepuluh tahun merawat suami dan ibunya yang sakit menghabiskan waktu yang panjang hingga menyita karirnya, jadilah pasiennya hanya dua itu saja selama sepuluh tahun. Awalnya dia putus asa dan frustasi, tapi lama kelamaan dia menerima skenario Tuhan dan mulai menuliskan semua pengalannya merawat dua pasiennya ini di sebuah blog. Bom, blognya banjir pembaca dan banyak bermanfaat bagi orang lain. Sepuluh tahun yang dijanjikan datang juga dan ketiga dokter ini berkumpul untuk menceritakan pengalaman masing-masing. Setelah bercerita, kedua teman dokter tadi baru menyadari bahwa pemilik blog terkenal yang sepuluh tahun hanya punya dua pasien itu tak lain adalah teman mereka sendiri. Bertemu banyak pasien selama ini ternyata kalah dibanding pemilik dua pasien namun manfaat ilmunya dirasakan oleh lebih banyak orang. Terbukti bahwa menulis jauh menjangkau banyak manfaat bukan?.

Jadi, apa rahasianya agar konsisten gak seberat beban hidup? yap, menulislah karena kalian emang pengen menulis, emang pengen nebar pesona, eh manfaat bagi banyak orang maksudnya. Jauhi menulis karena ingin royalti saja walaupun uang itu emang penting juga sih. Seenggaknya dengan menulis untuk tujuan menuangkan ide yang mungkin bisa membantu banyak orang, akan membuat kalian jadi ketagihan untuk tebar manfaat.

Konser di panggung ide

Pernah lihat kan ya orang konser di tonton banyak banget penggemar?. Saya sih belum pernah lihat langsung hehehe. Nonton konser gak pernah, tapi lihat di TV penampilan orang yang lagi konser ya sering. Suasananya ramai biasanya. Pernah gak kalian lihat orang konser malu-malu alias gak PeDe? ya enggak lah. Orang konser pasti menjadi idola, karena dia idolanya, pastinya dia akan menunjukkan kemampuan sebaik mungkin, tanpa malu bahkan sangat percaya diri.

Begitu juga lah kiat bagi penulis yang pengen sukses. Beberapa waktu lalu saya iseng buka situs medium. Nah, ketemu sebuah artikel dalam bahasa inggris yang judulnya “$5,795.00 From One Blog Post Using a Simple Strategy”. Tulisan ini membuat saya penasaran, kok judulnya enak bener ya dia menuai pundi-pundi dolar hanya dari satu buah postingan di blog dan dengan strategi yang sederhana. Karena penasaran, saya baca tuh tulisan. Karana saya merasa gak cukup, trus  juga berkunjung ke akun dan blog pemilik tulisan ini. Ternyata yang nulis ini tuh bapak-bapak yang udah menuju usia kakek. Dari beberapa tulisannya saya bisa ambil kesimpulan bahwa kiat dia bisa sukses jadi penulis adalah berawal dari ide yang besar. Jadi, menulis sukses versi bapak ini adalah awali tulisan kalian dengan ide-ide besar dan kalian harus PeDe atau percaya diri untuk tampil dengan ide itu. Kemudian, ide besar aja gak cukup donk. Ide besar ini perlu dituntaskan penyampaiannya dengan kalimat-kalimat yang memikat seperti penulisan gaya bercerita atau penulisan gaya motivasi, goalnya pembaca ya emang terpikat dengan ide itu. Kata si bapak ini juga kalian perlu riset jadi ngomong harus ada datanya supaya orang beneran terpikat dengan fakta yang kalian kemukakan. Nah di akhir sisipkan juga imbalan bagi pembaca. Imbalan itu ada banyak jenis ya seperti solusi bagi masalah pembaca atau point-point tips yang bisa bermanfaat bagi pembaca.

Intinya kalo menurut saya sih, kreatifitas mencari ide yang brilian, gak males riset, kemudian menuliskannya dengan percaya diri hingga memikat hati pembaca. Lalu akhiri dengan memberikan kepuasan pada pembaca karena mereka mendapatkan imbalan dari membaca tulisan itu.

Hanya mie yang instan, itupun gak sehat

Saya pernah nonton film drama korea tapi lupa judulnya hiks, kalo kalian tau boleh ketik di kolom komentar ya.  Drama ini bercerita tentang seorang penulis terkenal yang tulisannya selalu punya banyak pembaca dan ditunggu-tunggu kehadirannya oleh banyak kalangan. Cewek yang gak terlalu muda lagi itu menghabiskan waktu-waktu yang dimilikinya bukan untuk menulis loh. Apa? bukannya kalo udah sukses nulis berarti waktunya banyak habis untuk menulis? Pasti kalian bertanya begitu kan?.

Ternyata tidak pemirsa. Justru waktu yang dihabiskan penulis terkenal ini 80% nya habis untuk riset. Hanya 20% saja dari waktunya untuk menuliskan hasil riset itu. Untuk mencapai hasil riset yang maksimal bahkan ia rela harus menyelam, mendalami ha-hal yang akan dia tulis. Dia bahkan tidak sungkan untuk pindah rumah, menjalani kehidupan lain hanya untuk melakukan riset bahan tulisannya. Di sesi film ini, dia mendalami peran sebagai seorang yang kejam dengan tujuan menulis cerita pembunuhan. Serem gak tuh, sampai-sampai suami dan orang yang tinggal dengannya merasakan hawa kejam yang dia ciptakan agar mendapat rasa sebagai pembunuh.

Tidak hanya rela pindah rumah, memerankan sifat pembunuh, penulis ini juga belajar banyak sekali dari buku-buku hingga menumpuk di atas meja kerja dan di lantai tempat dia bersantai. Kira-kira berapa ya modal untuk beli semua buku yang dia pelajari untuk riset bahan tulisan? wkwkwk.

Di awal film masih gak jelas sih dia mau nulis tentang pembunuhan berantai atau kepribadian ganda si pembunuh. Tapi pada akhirnya, tulisannya ini menuliskan tentang misteri pembunuhan yang melibatkan beberapa pelaku dengan ciri-ciri psikologi masing-masing. Saya rasa, jika ini di dunia nyata, mungkin bukunya akan sangat bermanfaat di dunia kepolosian dan psikologi. Tapi ya ini hanya film namun begitu yang bisa kita ambil adalah bahwa untuk menghasilkan tulisan yang baik dan menjadi penulis yang sukses, gak ada yang instan.

Iya, hanya mie instan yang gampang dan itupun gak sehat. Jadi intinya adalah untuk menghasilkan kesuksesan penulis perlu memiliki keseriusan, gak takut capek, mau belajar dan gak asal menulis tanpa ada pengetahuan.

Selain hal-hal di atas sepertinya saya mau nambahin nih dikit. Boleh lah ya. Tentang menerima keritik dari orang lain. Penulis tidak mengapa menerima keritik yang kemudian baiknya keritik ini dijadikan bahan belajar untuk menjadi lebih baik dalam menulis. Keritik terkadang apalagi kalo pedes banget, akhirnya akan melahirkan rasa tidak nyaman. Emang sih gak enak dikritik. Tapi gak ada salahnya kritik itu kita jadiin cambuk untuk banyak belajar dan menjadi lebih baik. Iya kan?

Terlanjur basah? yasudah, mandi sekalian aja

Nah jadi itu tadi poin-poin yang bisa kalian baca tentang Rahasia Tersembunyi di Balik Kesuksesan Para Penulis. Udah tau kan ya rahasianya, hihi. Untuk poin judul terakhir ini saya cuma mau nyimpulkan bahwa saat kita udah bertekad untuk menjadi penulis atau tidak bertekat tapi suka aja gitu nulis, atau mikir gini, “oh ternyata Tuhan kasi aku kemampuan nulis”. Saat itulah kita sebaiknya terjun ke dunia nulis yang gak nanggung-nanggung. Terlanjur udah nulis ya sekalian aja jadi penulis yang sukses, ya gak sih?

Tapi di sini saya sebenarnya juga hanya bisa kasi saran untuk masukan bagi pembaca dan cambuk juga untuk diri sendiri karena saya juga mengingatkan diri sendiri dengan tulisan ini. Sadar lah ya saya bahwa saya pun masih sangat jauh dari kata sukses jadi penulis. Masih banyak angan-angan menulis yang belum tersampaikan, dan seiring berjalan waktu masih banyak hal lain yang belum dijadikan fokus.

Baca juga : Nulis Fiksi atau Non Fiksi?,

Bagi kita yang masih berproses, yuk sama-sama mandi biar basah, eh maksudnya sama-sama mendalami peran untuk menjadi penulis yang lebih baik, sukur-sukur suatu hari bisa sukses. Amin. Sekian semoga bermanfaat ya…

 

 

 

24 Comments

  • Sakinah Annisa Mariz

    Benar sekali kak, tidak ada yang instan untuk menjadi seorang penulis sukses. Saya termasuk orang yang suka tidak konsisten saat menulis, kadang pas mood datang ya nulis, kalau sudah banyak kerjaan, kelelahan mengurus anak, eh malah lalai. Padahal ketekunan kita menulis setiap hari dengan jadwal tetap itu yang membuat kita semakin terlatih ya kak. Semoga kita bisa terus mengembang diri dan menjadi “kaya” dari keterampilan ini ya kak. Amin ya rabb

    • Pertiwi Soraya

      Oo.. Ternyata malas itu hantu ya😄

      Btw, selain mie, ada kopi dan bubur juga ada yang bisa instan, Kak. Apa lagi ya… Wkkk

      Sepertinya pernah nonton yang sejenis itu tapi bukan drakor atau film korea. Dan gak ingat juga judulnya. Cuma ingat kayaknya anime. Dah lama kali pun😅

      Oiya, salam kenal Kak Zaimah. Kuyakin kita belum pernah ketemu. Walau di BlogM bukan wajah baru. 🙏😎

  • Dewi

    Amiiin ya rabb. Jangan takut berproses karena hasil tak kn berkhianat pada prosesnya. Yg pentinh di jalani, dilakukan dan sadar menjalani nya, jgn mabok hehe

  • bethania febyoletta

    wah keren mas xixi bener banget yg paling susah itu konsisten. ide banyak tapi klo gadak action dan konsitensi ya ambyar. makasi banyak buat tulisan ini ya, sangat mencerahkan supaya aktif menulis kembali

  • Ahmad Thanthawi Backpackerlens

    Aku setuju banget nih! terutama kita di Indonesia dimana budaya literasi baik membaca dan menulis itu sebetulnya belum banyak diminati dan tidak di tanam semenjak kecil. Sehingga ketika dewasa , untuk terjun ke dunia blogging itu bisa jadi berat karena menulis butuh komitmen dan konsistensi . Aku baca buku Atomic habits , James Clear – menurut ku bisa diterapkan. Mulai dari micro habit alias membangun kebiasaan kecil .

  • kyo

    betul konsisten itu berat apalagi ngandelin mood. kata Hasan Albana kalo nulis masih ngandelin mood belum bisa disebut penulis. aku pribadi tulisanku masih jauuuhhhhh dari baik apalagi soal EYD kadang masih tebalek-balik tapi kalau gak terus dilatih ya gak nulis-nulis.

  • Nina Nola Boang Manalu

    Saya juga sudah melalui tahap² ini, Kak. Awal menulis karena saya suka membaca. Jadi, pas SD saya langganan majalah Bobo dan cerpen pertama saya dimuat di sana. Saya belajar menulis secara otodidak. Tidak pernah ikut seminar, pelatihan, bahkan komunitas menulis. Hanya saja saya selalu ikuti setiap lomba menulis, terutama menulis cerita fiksi. Alhamdulillah di umur saya yang ke-33 tahun, saya dapat merasa bangga dengan karya terbaik yang pernah saya ciptakan dalam Sayembara Menulis Cerita Anak Dwibahasa Sumatera Utara 2022. Saya terpilih menjadi 10 penulis naskah terbaik. Selanjutnya, novel² saya juga berseliweran di beberapa platform. Saya hanya menulis dan menulis tanpa berharap apa².

  • Lily

    Mirip awak ya, udah terlanjur masuk ke komunitas blogger jadinya ya udah lanjutkan terus aja nulisnya.
    Emang konsisten itu susah ya, awak sampai harus ikutan lomba blog biar semangat nulis bisa terpacu terus. Kalau menang alhamdulillah, kalau kalah belajar dari pemenang buat semangat di lomba selanjutnya.

  • Iyah

    Meskipun iyah masih naik turun moodnya dalam proses pengembangan diri sebagai penulis, tapi iyah yakin semua ada prosesnya bermanfaat untuk hari-hari kedepan. Sekarnag lagi lembab sih kk, belum basah-basah bgt, ntar klo udah mulai kering baru nyemplung lagi wkwkwkwkakwak

    • Ririn a

      Pas baca poin 1, yah wassalam. Padahal bukan cuma kasi yg butuh konsisten ya, tapi tujuan atau keinginan juga perlu, agar aksi mengikuti.. Dan lihat orang orang yang terampil menulis agaknya jadi privilege tersendiri bagi mereka ya

  • Siti

    Tulisan yang sangat menginspirasi kak, dan memang poin terberat di konsisten kak yang amat sangat aku rasakan sekarang. Banyakpun ide kita dapat, tapi kalau gagal konsisten, sulit untuk maju 🙂

  • Siti

    Tulisan yang sangat menginspirasi kak, dan memang poin terberat di konsisten kak yang amat sangat aku rasakan sekarang. Banyakpun ide kita dapat, tapi kalau gagal konsisten, sulit untuk maju :).

  • Suci

    Konsisten itu sulitt? Ahhh itu betul sekali, haha
    Kadang semangat ada, ide ada, peralatan ada, memulainya ini susah.
    Gara2 kendala itu aja bikin mental blok, trus ngambek sama diri sendiri ga jadi lah nulis
    Kekgitu terus berulang

    Duuh, cemana lah itu ya, memang harus dipaksa kok ya..
    Semangat-semangat!!

  • siti nurhayati

    Riset, nulis, konsisten. 3 tips yang terlihat mudah padahal tak segampang itu. Konsisten merupakan suatu inti penting bagi seorang penulis. Seringkali penulis berangan-angan besar namun cepat puas dan tidak konsisten pada akhirnya. Terima kasih remindernya kak

  • Nafilah Cha

    Cuma mie yang instan, itu pun gak sehat!

    Aku merasa tersindir lol. Sebgai blogger pemula rasanya ingin cepat-cepat jadiprofesional tapi nulisnya masih jarang-jarang dan tidak konsisten.

  • Henny

    Riset memang harusnya paling banyak menyita waktu dan fokus. Apalagi untuk konten, apapun itu jenisnya. Aku iu kalau risetnya udah total, rasanya puas banget. Sedangkan untuk konten yang minim riset, walopun mampu menuai cuan, tetap kurang afdol rasanya.

  • Imelda Hutagalung

    Wah, keren. Aku beberapa kali sengaja ikut komunitas yang nulisnya sebulan penuh. Tapi ya itu, habis itu diam lagi.

  • Dana Anjani

    Tidak ada yang instan, bahkan mi instan pun harus diolah dulu biar bisa dinikmati. Yuk kak, semangat berproses ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *